BUNGA Part-1

 

BUNGA

Hari ini rasanya seperti anak yang baru lulus SMA, menganggur tidak ada kegiatan dan mau jalan dan jajan tapi gak punya cuan, juga malu kalau minta uang ke orangtua, enaknya jaman SMA dulu masih dapat bekal uang jajan dari orangtua, tapi sekarang hal itu tak sepantasnya aku lakukan, karena sekarang umurku sudah hampir 30-an.

                Perkenalkan namaku Bunga, seperti yang disebutkan sebelumnya, aku seorang pengangguran tanpa penghasilan, nol rupiah di rekening tabungan, masih punya tanggungan untuk bayar cicilan kontrakan. Aku tinggal berdua bersama ibu, sedangkan bapak sudah tidak ada sejak aku kecil dan tak banyak hal yang aku tau soal bapak seolah ibu merahasiakannya.

                Sebenarnya aku pernah bekerja di sebuah perusahaan ritel, selama 10 tahun lamanya, perekonomian keluarga cukup baik pada waktu itu dan aku mempunyai tabungan 30 jt yang aku siapkan untuk pesta jika aku nikah nanti. Namun semua itu berubah setelah perusahaan tempat aku bekerja pailit dan mem-PHK semua karyawannya termasuk aku karena perusahaan tak sanggup bertahan dalam kondisi pandemi yang membuat mobilitas masyarakat berkurang dan daya beli menurun.

                Aku sudah mencoba mencari pekerjaan lain namun hampir semua tempat tidak ada lowongan, salah satu tempat yang aku datangi mengatakan bahwa perusahaannya pun sedang melakukan PHK besar-besaran dan tidak akan ada lowongan dalam waktu yang tidak ditentukan. Untuk kebutuhan hidup sehari-hari dan bayar kontrakan terpaksa aku pakai uang tabungan secukupnya, aku berfikir cara mendapatkan penghasilan lain, namun aku bukan orang yang cakap dalam berwirausaha, dan aku pun tergiur dengan ajakan investasi titip dana dengan dijanjikan keuntungan yang berlipat ganda, aku yang tidak paham soal dunia investasi dan cara kerjanya, akhirnya ikut-ikutan dengan harapan bisa memutar uang tabungan dan menambah pendapatan.

                Awalnya aku coba-coba dengan modal kecil,  ternyata cukup mengungtungkan pada awalnya, keuntungan tersebut membuat aku berfikir mungkin keuntungan aku terasa kecil karena modalnya juga kecil, rasa tamak dan penasaran memenuhi pikiran aku saat itu, dan lalu menggunakan sebagian besar uang di tabungan untuk investasi tersebut. Esoknya pagi-pagi aku buru-buru ke ATM dan tidak sabar melihat keuntungan dari dana yang aku titipkan, ternyata masih belum ada pikirku, lalu aku tunggu 1 jam kemudian masih belum ada, dari pagi sampai siang aku menunggu di dekat ATM dan setiap jam aku chek saldo rekening aku dengan masih yakin uang aku akan kembali dengan jumlah berlipat ganda, siang sampai sore aku masih sering bulak-balik ATM untuk chek saldo namun yang masih blm ada transferan, aku mulai cemas, takut, ragu dan khawatir, hari sudah malam namun saldo masih tetap sama. Aku coba tanyakan ke orang yang mengajak aku tapi nomernya sudah tidak aktif, saat itu pun aku sadar telah tertipu oleh investasi bodong.

                Aku pun akhirnya mengambil sisa-sisa rupiah di ATM untuk membayar kontrakan dan biaya hidup bulan depan, dan sepertinya memang cukup hanya sampai bulan depan saja. Lalu aku pun pulang ke rumah dengan rasa kecewa dan kesal kepada diri aku sendiri yang begitu bodohnya mempercayakan uang hasil menabung bertahun-tahun kepada orang yang belum dikenal. “Bu, ini uang untuk bayar kontrakan dan biaya hidup kita bulan ini” ucap aku sambil memberikan uang tersebut dan sambil menutupi perasaan yang sedang aku hadapi saat ini, dan ibu menerimanya dengan senyuman. Sebenarnya aku ingin bercerita soal yang terjadi pada aku saat ini, tapi aku malu dan takut ibu merasa kecewa atas kebodohan yang aku lakukan,

                Aku masuk kamar dengan badan yang terasa lemas dan pikiran serta perasaan yang kacau, rasanya tidur malam ini tidak akan lelap, aku berusaha pejamkan mata dengan harapan semua kejadian ini hanya mimpi.

*Bersambung~~~

Comments

Popular posts from this blog

Tamu Undangan

Pertemuan di Persimpangan